Rabu, 16 Desember 2015

LUTUNG KASARUNG

LUTUNG KASARUNG

Pada masa jaman dulu di tatar pasundan ada suatu kerajaan yang pimpin oleh seseorang raja yang bijaksana, beliau di kenal juga sebagai Prabu Tapak Agung. 

Prabu Tapa Agung memiliki dua orang putri cantik yakni Purbararang serta adiknya Purbasari. 

Ketika mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya juga sebagai pengganti. “Aku telah terlampau tua, waktunya saya turun tahta, ” kata Prabu Tapa. 

Purbasari mempunyai kakak yang bernama Purbararang. Ia tak sepakat adiknya diangkat menukar Bapak mereka. “Aku putri Sulung, semestinya ayahanda pilih saya juga sebagai penggantinya, ” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang telah mencapai puncak membuatnya memiliki kemauan mencemoohkakan adiknya. Ia menjumpai seseorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari hingga waktu itu juga mendadak kulit Purbasari jadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi mempunyai argumen untuk mengusir adiknya itu. “Orang yang dikutuk seperti dia tak layak jadi seseorang Ratu! ” tutur Purbararang. 

Lalu ia menyuruh seseorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke rimba. Sesampai di rimba patih itu masih tetap berbaik hati dengan membikinkan suatu pondok untuk Purbasari. Ia juga memberikan nasehat Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini juga bakal selesai, Yang Maha Kuasa juga bakal senantiasa berbarengan Putri”. “Terima kasih paman”, tutur Purbasari. 

Sepanjang di rimba ia memiliki banyak rekan yakni hewan-hewan yang senantiasa baik kepadanya. Di antara hewan itu ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Namun kera itu yang paling perhatian pada Purbasari. Lutung kasarung senantiasa menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah dan buah-buahan berbarengan rekan-temannya. 

Ketika malam bln. purnama, Lutung Kasarung berlaku aneh. Ia jalan ke tempat yang sepi lantas bersemedi. Ia tengah memohon suatu hal pada Dewata. Ini menunjukkan bahwa Lutung Kasarung bukanlah makhluk umum. Selang beberapa saat, tanah di dekat Lutung merekah serta terwujudlah suatu telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya memiliki kandungan obat yang sangatlah harum. 

Esok harinya Lutung Kasarung menjumpai Purbasari serta memintanya untuk mandi di telaga itu. “Apa faedahnya bagiku? ”, pikir Purbasari. Namun ia ingin menurutinya. Tidak lama sesudah ia menceburkan dianya. Suatu hal berlangsung pada kulitnya. Kulitnya jadi bersih seperti awal mulanya serta ia jadi cantik kembali. Purbasari sangatlah terperanjat serta senang saat ia bercermin ditelaga itu. 

Di istana, Purbararang mengambil keputusan untuk lihat adiknya di rimba. Ia pergi berbarengan tunangannya serta beberapa pengawal. Saat hingga di rimba, ia pada akhirnya bersua dengan adiknya serta sama-sama berpandangan. Purbararang tidak yakin lihat adiknya kembali seperti awal mulanya. Purbararang tidak ingin kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang! ”, kata Purbararang. Awalannya Purbasari tidak ingin, namun lantaran selalu didesak ia meladeni kakaknya. Nyatanya rambut Purbasari lebih panjang. 

“Baiklah saya kalah, namun saat ini mari kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sembari mendekat pada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah serta kebingungan. Pada akhirnya ia melirik dan menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seolah-olah menentramkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu? ”. 

Ketika itu juga Lutung Kasarung selekasnya bersemedi. Mendadak berlangsung satu keajaiban. Lutung Kasarung beralih jadi seseorang Pemuda gagah wajahnya sangatlah tampan, kian lebih Indrajaya. Seluruhnya terperanjat lihat peristiwa itu seraya bersorak senang. Purbararang pada akhirnya mengaku kekalahannya serta kekeliruannya sampai kini. Ia memohon maaf pada adiknya serta memohon tidak untuk dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Sesudah peristiwa itu pada akhirnya mereka seluruhnya kembali pada Istana. 

Purbasari jadi seseorang ratu, didampingi oleh seseorang pemuda idamannya. Pemuda yang nyatanya sampai kini senantiasa mendampinginya dihutan dalam bentuk seekor lutung.
Cerita Rakyat Keong emas

Cerita Rakyat Keong emas


Cerita Rakyat Keong emas

Alkisah pada masa jaman dulu hiduplah seseorang pemuda bernama Galoran. Ia termasuk juga orang yang disegani lantaran kekayaan serta pangkat orangtuanya. Tetapi Galoran sangat malas serta boros. Sehari-hari kerjanya cuma menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan juga pada saat orang tuanya wafat dunia ia makin kerap berfoya-foya. Karenanya lama kelamaan habislah harta orangtuanya. Meskipun sekian tak bikin Galoran sadar juga, bahkan juga saat di habiskannya dengan cuma bermalas-malasan serta berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Tetapi setiap saat ada yang tawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran cuma makan serta tidur saja tanpa ada ingin lakukan pekerjaan itu. Tetapi pada akhirnya galoran dipungut oleh seseorang janda berkecukupan untuk jadikan rekan hidupnya. Hal semacam ini bikin Galoran sangatlah suka ; " Pucuk dicinta ulam juga tiba ", sekian pikir Galoran. 

Janda itu memiliki seseorang anak wanita yang sangatlah rajin serta pintar menenun, namanya Jambean. Demikian bagusnya tenunan Jambean hingga di kenal di semua dusun itu. Tetapi Galoran sangatlah membenci anak tirinya itu, lantaran kerapkali Jambean memberinya teguran lantaran senantiasa bermalas-malasan. 
Rasa tidak suka Galoran sedemikian dalamnya, hingga tega berencana pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam dia berkata pada istrinya : " Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia memberikan nasehat orang-tua! Patutkah itu? " " Sabar, Kak. Jambean tak punya maksud jelek pada kakak " rayu istrinya itu. " Tahu saya kenapa ia berbuat kasar padaku, supaya saya pergi meninggalkan rumah ini! " seru nya lagi sembari melototkan matanya. " Janganlah demikian kak, Jambean cuma mengingatkan supaya kakak ingin bekerja " sekian usaha sang istri meredakan amarahnya. " Ah.. omong kosong. Pendeknya saat ini engkau mesti pilih.. saya atau anakmu! " sekian Galoran meneror. 

Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam lantaran bingung hatinya. Ratapnya : " Tega bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak " serunya lirih. " Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku " jawab Jambean. " Nah usai telah " serunya lagi. Segera Jambean memperoleh ibunya yang tengah bersedih. " Kenapa emak bersedih saja " tanyanya dengan iba. Jadi diceritakanlah gagasan ayah Jambean yang berencana bakal membunuh Jambean. Dengan sedih Jambean juga berkata : " Sudahlah mak janganlah bersedih, biarlah saya penuhi hasrat ayah. Yang benar pada akhirnya bakal bahagia mak ". " Tetapi cuma satu pesanku mak, jika saya telah dibunuh bapak jangan sampai mayatku ditanam namun buang saja ke bendungan " jawabnya lagi. Dengan sangatlah sedih sang ibu juga mengangguk-angguk. Pada akhirnya Jambean juga dibunuh oleh bapak tirinya, serta sesuai sama keinginan Jambean sang ibu buang mayatnya di bendungan. Dengan ajaib batang badan serta kepala Jambean beralih jadi udang serta siput, atau dimaksud dengan juga keong dalam bhs Jawanya. 

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara bernama Mbok Rondo Sambega serta Mbok Rondo Sembadil. Ke-2 janda itu hidup dengan sangatlah miskin serta bermata pencaharian menghimpun kayu serta daun talas. Satu hari ke-2 bersaudara itu pergi ke dekat bendungan untuk mencari daun talas. Sangatlah terpana mereka lihat udang serta siput yang berwarna kuning keemasan. " Alangkah indahnya udang serta siput ini " seru Mbok Rondo Sambega " Lihatlah begitu indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Mau saya dapat memeliharanya " serunya lagi. " Yah sangatlah indah, kita bawa saja udang serta keong ini pulang " sahut Mbok Rondo Sembadil. Jadi dipungutnya udang serta siput itu untuk dibawa pulang. Lalu udang serta siput itu mereka simpan didalam tempayan tanah liat di dapur. Mulai sejak mereka pelihara udang serta siput emas itu kehidupan merekapun beralih. Terlebih tiap-tiap setelah pulang bekerja, didapur sudah ada lauk pauk serta rumah jadi sangatlah rapi serta bersih. Mbok Rondo Sambega serta Mbok Rondo Sembadil juga terasa keheranan karenanya ada hal itu. Hingga disuatu hari mereka merencanakan untuk mencari tahu siapakah kiranya yang lakukan hal itu. 

Satu hari mereka seperti umumnya pergi untuk mencari kayu serta daun talas, mereka berpura-pura pergi serta setelah jalan agak jauh mereka selekasnya kembali menyelusup ke dapur. Dari dapur terdengar nada gemerisik, ke-2 bersaudara itu selekasnya mengintip serta lihat seseorang gadis cantik keluar dari tempayan tanah liat yang diisi udang serta Keong Emas peliharaan mereka. " pasti dia yaitu jelmaan keong serta udang emas itu " bisik Mbok Rondo Sambega pada Mbok Rondo Sembadil. " Mari kita tangkap saat sebelum menjelma kembali jadi udang serta Keong Emas " bisik Mbok Rondo Sembadil. Dengan perlahan mereka masuk ke dapur, lantas ditangkapnya gadis yang tengah asyik memasak itu. " Mari katakan segera nak, siapa kiranya anda itu " desak Mbok Rondo Sambega " Bidadarikah anda? " sahutnya lagi. " bukanlah Mak, saya manusia umum yang lantaran dibunuh serta dibuang oleh orangtua saya, jadi saya menjelma jadi udang serta keong " sahut Jambean lirih. " terharu mendengar narasi Jambean ke-2 bersaudara itu pada akhirnya mengambil Keong Emas juga sebagai anak angkat mereka. Mulai sejak itu Keong Emas menolong ke-2 bersaudara itu dengan menenun. Tenunannya sangatlah indah serta bagus hingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, serta ke-2 janda bersaudara itu jadi jadi tambah kaya dari hari kehari. 

Sampailah tenunan tersebut di ibu kota kerajaan. Sang raja muda sangatlah tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas itu. Pada akhirnya raja mengambil keputusan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan itu serta pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar juga sebagai saudagar kain. Pada akhirnya tahulah raja tentang Keong Emas itu, serta sangatlah tertarik oleh kecantikan serta kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan ke-2 bersaudara itu untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan serta meminang si Keong Emas untuk jadikan permaisurinya. Begitu suka hati ke-2 janda bersaudara itu.
Guy Serta Seekor Lebah

Guy Serta Seekor Lebah

 Di suatu desa, hiduplah seseorang anak bernama Guy. Tubuhnya gemuk serta putih. Seperti anak lain, Guy memiliki rasa penasaran pada beragam hal. 

Satu hari, lebah besar berwana kuning serta hitam masuk ke rumah Guy. Guy tertarik serta mencermatinya. 

Supaya Iebah tak keluar, Guy tutup pintu serta jendela tempat tinggalnya. Selang beberapa saat, lebah itu akan keluar. la terbang ke arah jendela kaca yang menunjukkan panorama diluar rumah. Lebah menabrak jendela kaca serta terpental. Demikian berjalan berulang-kali. 

Guy yang penasaran mau menyentuh sayap lebah. Dia lupa nasehat Ibunya bahwa seekor lebah dapat menyengat. Pada akhirnya, Iebah itu menyengat tanngan Guy. Guy juga berteriak kesakitan hingga terdengar oleh ibunya yang tengah memasak di dapur. Ibu Guy juga lari mendatanginya yang tengah menangis. 

 " Ada apa, Guy? " bertanya ibu. 

 " Saya akan memegang lebah serta ia menyengatku, Bu, " kata Guy sembari menangis. 

Ibu selekasnya menyembuhkan telunjuk Guy yang disengat Iebah. " Ibu telah menasihatimu perihal lebah. Lain waktu, kau mesti lebih menuruti nasehat ibu, ya! " kata ibu pada Guy menasihati. 

Guy mengangguk sembari selalu menangis. Mulai sejak hari itu, Guy senantiasa menuruti nasehat ibunya.
DANAU TOBA

DANAU TOBA

Di lokasi Sumatera hiduplah seseorang petani yang sangatlah rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Sehari-hari ia bekerja mengerjakan lading serta mencari ikan dengan tak mengetahui capek. Hal semacam ini dikerjakannya untuk penuhi kebutuhannya sehari-hari. 

Disuatu hari petani itu pergi ke sungai di dekat rumahnya, ia punya maksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan cuma berbekal suatu kail, umpan serta tempat ikan, ia juga segera menuju ke sungai. Sesudah sesampainya di sungai, petani itu segera melemparkan kailnya. Sembari menanti kailnya dikonsumsi ikan, petani itu berdoa, “Ya Alloh, mudah-mudahan saya bisa ikan banyak hari ini”. Sebagian waktu sesudah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi terlihat bergoyang-goyang. Ia selekasnya menarik kailnya. Petani itu sangatlah suka sekali, lantaran ikan yang didapatkannya sangatlah besar serta cantik sekali. 

Sesudah sebagian waktu memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangatlah terperanjat. Nyatanya ikan yang ditangkapnya itu dapat bicara. “Tolong saya janganlah dikonsumsi Pak!! Biarlah saya hidup”, teriak ikan itu. Tanpa ada banyak Bertanya, ikan tangkapannya itu segera dikembalikan ke air lagi. Sesudah kembalikan ikan ke air, petani itu jadi tambah terperanjat, lantaran mendadak ikan itu beralih jadi seseorang wanita yang sangatlah cantik. 

“Jangan takut Pak, saya akan tidak menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah anda ini? Tidakkah anda seekor ikan?, Bertanya petani itu. “Aku yaitu seseorang putri yang dikutuk, lantaran tidak mematuhi ketentuan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau telah membebaskan saya dari kutukan itu, serta juga sebagai imbalannya saya bersedia kau buat jadi istri”, kata wanita itu. Petani itupun sepakat. Jadi jadilah mereka juga sebagai suami istri. Tetapi, ada satu janji yang sudah disetujui, yakni mereka tak bisa menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Bila janji itu dilanggar jadi bakal berlangsung malapetaka dahsyat. 

Sesudah sebagian lama mereka menikah, pada akhirnya kebahagiaan Petani serta istrinya jadi tambah, lantaran istri Petani melahirkan seseorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh jadi anak yang sangatlah tampan serta kuat, namun ada rutinitas yang bikin heran kebanyakan orang. Anak itu senantiasa terasa lapar, serta tak pernah terasa kenyang. Seluruhnya jatah makanan dilahapnya tanpa ada bekas. 

Sampai satu hari anak petani itu memperoleh pekerjaan dari ibunya untuk mengantarkan makanan serta minuman ke sawah dimana ayahnya tengah bekerja. Namun tugasnya tak dipenuhinya. Seluruhnya makanan yang semestinya untuk ayahnya dilahap habis, serta kemudian dia tertidur di suatu gubug. Pak tani menanti kehadiran anaknya, sembari menahan haus serta lapar. Lantaran tak tahan menahan lapar, jadi ia segera pulang ke rumah. Di dalam perjalanan pulang, pak tani lihat anaknya tengah tidur di gubug. Petani itu segera bangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu. 

Sesudah anaknya terbangun, petani itu segera bertanya makanannya. “Mana makanan buat bapak? ”, Bertanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan suara tinggi petani itu segera memarahi anaknya. " Anak tak tau diuntung! Tidak tahu diri! Basic anak ikan!, " umpat si Petani tanpa ada sadar sudah mengatakan kata pantangan dari istrinya. 

Sesudah petani mengatakan kalimat itu, saat itu juga anak serta istrinya hilang lenyap tanpa ada sisa serta jejak. Dari sisa injakan kakinya, mendadak menyemburlah air yang sangatlah deras. Air meluap sangatlah tinggi serta luas hingga membuat suatu telaga. Serta pada akhirnya membuat suatu danau. Danau itu pada akhirnya di kenal dengan nama Danau Toba. 

Narasi Rakyat Timun Mas - Sesudah Kemaren saya sudah Menulis Narasi Rakyat Cindelaras serta Narasi Rakyat Malin Kundang, Kesempatan ini Saya bakal Berbagi Narasi Rakyat Timun Mas. Narasi di Indonesia benar-benar sangat banyak bahkan juga tiap-tiap Daerah memiliki Narasi Rakyat Sendiri Seperti di Jawa Tengah ini populer dengan Narasi Rakyat Timun Mas ini, Okelah segera untuk membacanya saja atau Copy-paste untuk oleh-oleh baca dirumah.
Danau Situ Bagendit

Danau Situ Bagendit


Danau Situ Bagendit

Danau Situ Bagendit terdapat di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Jawa Barat, seputar empat km. dari Kota Garut. Nama danau di ambil dari nama seseorang janda kaya yang tamak serta kikir. Lantaran kekikiran serta ketamakannya, satu hari janda itu memperoleh pelajaran dari seseorang kakek tua, hingga ia serta semua harta kekayaannya ditenggelamkan air. Tersebut kisahnya : 

Alkisah, di suatu desa terpencil di daerah Jawa Barat, ada seseorang janda muda yang kaya raya serta tak memiliki anak. Hartanya yang melimpah ruah serta rumah sangatlah besar yang ditempatinya adalah warisan dari suaminya yang sudah wafat dunia. Tetapi sungguh disayangkan, janda itu sangatlah kikir, pelit, serta tamak. Ia tak pernah ingin memberi pertolongan pada warga yang memerlukan. Bahkan juga bila ada orang miskin yang datang ke tempat tinggalnya untuk meminta pertolongan, ia tak segan-segan mengusirnya. Lantaran sifatnya yang kikir serta pelit itu, jadi orang-orang di sekelilingnya memanggilnya Bagenda Endit, yang berarti orang kaya yang pelit. 

Terkecuali mempunyai harta warisan yang melimpah, Bagende Endit juga mewarisi pekerjaan suaminya juga sebagai rentenir. Nyaris semua tanah pertanian di desa itu yaitu kepunyaannya yang dibeli dari masyarakat seputar lewat cara memeras, yakni meminjamkan duit pada warga dengan bunga yang tinggi serta memberikannya tempo pembayaran yang sangatlah singkat. Bila ada warga yg tidak mampu membayar hutang sampai jatuh tempo, jadi tanah pertaniannya mesti jadi taruhannya. Tidak heran bila masyarakat sekitarnya banyak yang jatuh miskin lantaran tanah pertanian mereka habis dibeli seluruhnya oleh janda itu. 

Satu hari, saat Bagende Endit tengah asik menghitung-hitung emas serta permatanya di depan tempat tinggalnya, mendadak seseorang wanita tua yang tengah menggendong bayi datang menghampirinya. 

“Bagende Endit, kasihanilah kami! Telah dua hari anak saya tak makan, ” kata wanita itu memelas. 

“Hai wanita tua yg tidak tahu diri! Maka dari itu, janganlah mempunyai anak bila anda tak dapat memberikannya makan! Enyahlah kau dari hadapanku! ” bentak Bagende Endit. 

Bayi di gendongan wanita itu juga menangis mendengar nada bentakan Bagende Endit. Lantaran kasihan lihat bayinya, pengemis tua itu kembali memohon pada janda kaya itu supaya memberi sesuap nasi untuk anaknya. Tanpa ada sepatah kata, Bagende Endit masuk ke rumah. Alangkah sukanya hati wanita tua itu, lantaran menduga Bagende Endit bakal mengambil makanan. 

“Cup... cup... cup...! Diamlah anakku sayang. Sebentar lagi kita bakal memperoleh makanan, ” rayu wanita itu sembari meniadakan air mata bayinya. 

Tidak berapakah lama lalu, Bagende Endit juga keluar. Tetapi, bukannya membawa makanan, tetapi suatu ember yang diisi air serta mendadak Bagende Endit menyiramkannya ke arah wanita tua itu. 

“Byuuurrr...! Rasakanlah ini hai wanita tua! ” seru Bagende Endit. 

Tidak ayal lagi, sekujur badan wanita tua serta bayinya jadi basah kuyup. Sang bayi juga menangis dengan sejadi-jadinya. Dengan hati pilu, wanita tua itu berupaya mendiamkan serta mengusap badan bayinya yang basah kuyup. Lihat wanita tua belum juga pergi, janda kaya yg tidak berpesan itu makin geram. Dengan muka garang, ia selekasnya mengusir wanita tua itu keluar dari pekarangan tempat tinggalnya. Sesudah wanita tua itu pergi, Bagende Endit kembali masuk ke tempat tinggalnya. 

Esok harinya, sebagian warga datang ke rumah Bagende Endit meminta air sumur untuk kepentingan memasak serta mandi. Kebetulan di desa itu cuma janda kaya tersebut hanya satu yang mempunyai sumur serta airnya juga sangatlah melimpah. Sesaat warga di sekelilingnya mesti mengambil air di sungai yang jaraknya cukup jauh dari desa. 

“Bagende Endit, tolonglah kami! Biarkan kami mengambil air di sumur Bagende buat kami gunakan memasak. Kami telah kelaparan, ” iba seseorang warga dari luar pagar rumah Bagende Endit. 

“Hai, kalian seluruhnya! Saya tak mengizinkan kalian mengambil air di sumurku! Bila kalian ingin mengambil air, pergilah ke sungai sana! ” usir Bagende Endit. 

Beberapa warga itu tak dapat berbuat apa-apa. Pada akhirnya, mereka juga sangat terpaksa pergi ke sungai untuk mengambil air. Tidak berapakah lama sesudah warga itu berlalu, mendadak seseorang kakek tua renta berdiri sembari memegang tongkatnya di depan rumah Bagenda Endit. Kakek itu juga punya maksud untuk meminta air namun cuma untuk diminum. 

“Ampun Bagende Endit! Berilah hamba seteguk air minum. Hamba sangatlah haus, ” iba Kakek itu. 

Bagende Endit yang mulai sejak tadi telah terasa jengkel jadi makin jengkel lihat kehadiran kakek tua itu. Tanpa ada sepata kata juga, ia keluar dari tempat tinggalnya lantas hampiri serta merampas tongkat sang kakek. Dengan tongkat itu, ia lalu memukuli kakek itu sampai babak belur serta jatuh tersungkur ke tanah. Lihat kakek itu tak telah tak berdaya lagi, Bagende Endit buang tongkat itu di samping kakek itu lantas bergegas masuk ke tempat tinggalnya. 

Sungguh malang nasib kakek tua itu. Bukannya air minum yang didapat dari janda itu tetapi penganiayaan. Sembari menahan rasa sakit di sekujur badannya, kakek itu berupaya mencapai tongkatnya untuk dapat bangkit kembali. Dengan sisa-sisa tenaga yang dipunyainya, kakek itu menancapkan tongkatnya di halaman rumah Bagende Endit. Demikian ia mencabut tongkat itu, mendadak air menyembur keluar dari sisa tancapan tongkat itu. Berbarengan dengan itu, kakek itu juga menghilang tak tahu ke mana. 

Makin lama semburan air itu makin besar serta deras. Beberapa warga juga berlarian meninggalkan desa itu untuk menyelamatkan diri. Disamping itu, Bagende Endit masih tetap ada didalam tempat tinggalnya akan menyelamatkan seluruhnya harta bendanya. Tanpa ada diakuinya, nyatanya air sudah menggenangi semua desa. Ia juga berupaya untuk menyelamatkan diri sembari berteriak meminta tolong. 

“Tolooong.... Toloong... Tolong saya! Saya tak dapat berenang! ” teriak Bagende Endit meminta tolong sembari menggendong suatu peti emas serta permatanya. 

Bagende Endit selalu berteriak sampai suaranya jadi parau. Tetapi tidak seseorang juga yang datang menolongnya lantaran semua warga sudah pergi meninggalkan desa. Janda kaya yang pelit itu tak dapat lagi menyelamatkan diri serta terbenam berbarengan semua harta kekayaannya. Makin lama, desa itu selalu tergenang air sampai pada akhirnya lenyap serta menjadilah suatu danau yang luas serta dalam. Oleh orang-orang setempat, danau itu dinamakan Situ Bagendit. Kata situ bermakna danau yang luas, sedang kata bagendit di ambil dari nama Bagende Endit.
Cerita Cindelaras

Cerita Cindelaras


Cerita Cindelaras

Kerajaan Jenggala di pimpin oleh seseorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seseorang permaisuri yang baik hati serta seseorang selir yang mempunyai karakter iri serta dengki. Raja Putra serta ke-2 istrinya tadi hidup didalam istana yang sangatlah megah serta damai. Sampai satu hari selir raja berencana suatu hal yang jelek pada permaisuri raja. Hal itu dikerjakan lantaran selir Raden Putra mau jadi permaisuri. 

Selir baginda lantas berkomplot dengan seseorang tabib istana untuk melakukan gagasan itu. Selir baginda berpura-pura sakit kronis. Tabib istana lantas selekasnya di panggil sang Raja. Sesudah mengecek selir itu, sang tabib menyampaikan bahwa ada seorang yang sudah menyimpan toksin pada minuman tuan putri. " Orang itu tidak lain yaitu permaisuri Baginda sendiri, " kata sang tabib. Baginda jadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia selekasnya memerintahkan patih untuk buang permaisuri ke rimba serta membunuhnya. 

Sang Patih selekasnya membawa permaisuri yang tengah memiliki kandungan itu ke tengah rimba belantara. Namun, patih yang bijak itu tidak ingin membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah tahu kemauan jahat selir baginda. " Tuan putri tak perlu cemas, hamba bakal melaporkan pada Baginda bahwa tuan putri telah hamba bunuh, " kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja terasa senang saat sang patih melapor bila ia telah membunuh permaisuri. 

Sesudah sebagian bln. ada di rimba, sang permaisuri melahirkan seseorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh jadi seseorang anak yang cerdas serta tampan. Mulai sejak kecil ia telah berteman dengan binatang penghuni rimba. Satu hari, saat tengah asik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras lalu mengambil telur itu serta punya maksud menetaskannya. Sesudah 3 minggu, telur itu menetas jadi seekor anak ayam yang sangatlah lucu. Cindelaras pelihara anak ayamnya dengan rajin. Semakin hari anak ayam itu tumbuh jadi seekor ayam jantan yang gagah serta kuat. Namun ada satu yang aneh dari ayam itu. Bunyi kokok ayam itu tidak sama dengan ayam yang lain. " Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, tempat tinggalnya di dalam rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra... ", kokok ayam itu 

Cindelaras sangatlah takjub mendengar kokok ayamnya itu serta selekasnya menunjukkan pada ibunya. Lantas, ibu Cindelaras menceritakan asal usul kenapa mereka hingga ada di rimba. Mendengar narasi ibundanya, Cindelaras berkemauan untuk ke istana serta memaparkan kejahatan selir baginda. Sesudah di izinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Saat dalam perjalanan ada sebagian orang yang tengah menyabung ayam. Cindelaras lalu di panggil oleh beberapa penyabung ayam. " Mari, bila berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku, " tantangnya. " Baiklah, " jawab Cindelaras. Saat diadu, nyatanya ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa serta kurun waktu singkat, ia bisa menaklukkan lawannya. Sesudah sekian kali diadu, ayam Cindelaras tak terkalahkan. 

Berita perihal kehebatan ayam Cindelaras menyebar dengan cepat sampai hingga ke Istana. Raden Putra pada akhirnya juga mendengar berita itu. Lalu, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. " Hamba menghadap paduka, " kata Cindelaras dengan santun. " Anak ini tampan serta cerdas, kelihatannya ia bukanlah keturunan rakyat jelata, " pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu prasyarat, bila ayam Cindelaras kalah jadi ia bersedia kepalanya dipancung, namun bila ayamnya menang jadi 1/2 kekayaan Raden Putra jadi punya Cindelaras. 

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Namun kurun waktu singkat, ayam Cindelaras sukses mengalahkan ayam sang Raja. Beberapa pemirsa bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras serta ayamnya. " Baiklah saya mengakui kalah. Saya bakal menepati janjiku. Namun, siapakah kau sesungguhnya, anak muda? " Bertanya Baginda Raden Putra. Cindelaras selekasnya membungkuk seperti membisikkan suatu hal pada ayamnya. Tak berapakah lama ayamnya selekasnya berbunyi. " Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, tempat tinggalnya di dalam rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..., " ayam jantan itu berkokok berkali-kali. Raden Putra terkejut mendengar kokok ayam Cindelaras. " Apakah benar itu? " Bertanya baginda keheranan. " Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba yaitu permaisuri Baginda. " 

Berbarengan dengan itu, sang patih selekasnya menghadap serta menceritakan seluruhnya momen yang sesungguhnya sudah berlangsung pada permaisuri. " Saya sudah lakukan kekeliruan, " kata Baginda Raden Putra. " Saya bakal memberi hukuman yang setimpal pada selirku, " lanjut Baginda dengan murka. Lalu, selir Raden Putra juga di buang ke rimba. Raden Putra selekasnya memeluk anaknya serta mohon maaf atas kekeliruannya Kemudian, Raden Putra serta hulubalang selekasnya menjemput permaisuri ke rimba.. Pada akhirnya Raden Putra, permaisuri serta Cindelaras bisa berkumpul kembali. Sesudah Raden Putra wafat dunia, Cindelaras menukar kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil serta bijaksana.
Cerita Sultan Domas yang Baik Hati

Cerita Sultan Domas yang Baik Hati

Cerita Sultan Domas yang Baik Hati
Dahuiu saat di Kota Lampung ada suatu desa di tepi sungai. Saat ini desa itu terdapat di Kota Sukadana, Lampung Tengah. Pekerjaan orang-orangnya sehari-hari adalah bertani serta berkebun. Desa itu cukup ramai. Alkisah di desa yang ramai itu hiduplah seseorang pemuda bernama Domas yang tinggal di gubuk tua. Pemuda itu sangatlah miskin, ia senantiasa dihina oleh orang-orang setempat, karenanya ia tidak sering keluar untuk berbaur dengan masyarakat. Pekerjaan setiap harinya cuma mamancing di kali yang dekat dengan gubuknya. 

Walaupunpiun ia senantiasa dihina serta diejek oleh beberapa masyarakat setempaf, Domas tidak pernah sedikitpun membenci mereka yang mengejeknya. Bahkan juga waktu sepulang dari mencari kayu bakar ia terperanjat waktu menjumpai gubuknya telah terbakar musnah. 

Domas tidak tahu kenapa beberapa orang tega membakar gubuknya, walau sebenarnya ia cuma mempunyai gubuk tua itu. Nyaris saja Domas putus harapan sampai satu malam ia punya mimpi didatangi kakek tua berjanggut putih. Dalam mimpinya, kakek tua itu memintanya supaya pergi ke arah selatan serta mencari sungai yang dikelilingi pohon-pohon besar. Lalu Domas disuruhnya menetap disana untuk buka pertanian. 

Domas terheran-heran kenapa ia dapat punya mimpi sekian, pada akhirnya sesudah membulatkan kemauan, ia pergi juga meninggalkan kampung halamannya menuju tempat yang jauh itu seperti dalam mimpinya. Nyatanya perjalanannya tidak gampang, berulang-kali ia memperoleh halangan baik serangan dari hewan- hewan buas ataupun makhluk halus, tetapi ia sukses melalui seluruhnya dengan selamat sampai pada akhirnya sampailah ia ditempat yang dituju. la berhenti di suatu rimba lebat serta temukan suatu sungai yang besar dengan airnya yang jernih yang seputarnya ada pohon-pohon besar. 

Lalu Domas mencari kayu-kayu di sekelilingnya untuk membangun rumah di pinggir sungai besar itu yang saat ini lebih di kenal dengan nama sungai Way Sekampung. Sesudah Domas membangun rumah, ia lantas menebang kayu-kayu untuk jadikan tempat pertanian. Saat ini Domas melakukan setiap harinya dengan penuh semangat serta rasa senang. 

Satu hari ia lakukan semedi sampai ketika bertapa pada larut malam itu ia mendengar nada gaib memangilnya, " Hei anak muda! Saya yaitu makhluk titisan dari langit, saat ini kau bakal mempunyai pengetahuan sakti serta terimalah pedang serta tongkat kayu yang berupa ular ini, gunakan dengan baik " ucap nada gaib itu seraya menghilang. 

Domas lalu buka matanya serta temukan sebilah pedang serta tongkat kayu di sebelahnya, ia juga mengucap sukur. 

 " Terima kasih Tuhan atas semuanya, ijinkan saya jadi manusia yang bermanfaat, " ucapnya lirih. 

Bersamaan berjalannya saat, rimba yang dahulunya sepi itu saat ini perlahan-lahan jadi ramai, beberapa orang yang berdatangan untuk mencari kayu maupun mencari ikan di sungai yang besar itu. 

Saat ini Domas jadi sosok yang tidak sama, ia mulai terpandang dengan kebaikannya sampai namanya ditambah jadi Sultan Domas. la senantiasa membantu beberapa orang yang terserang binatang buas serta beberapa macam pertolongan yang lain yang ia berikanlah tanpa ada rasa pamrih. 

Tetapi tak selama-lamanya kebaikan dibalas dengan kebaikan, rupanya ada saja beberapa orang yang pernah ditolong Sultan Domas itu mau berbuat jahat kepadanya. Mereka mau merebut sebilah pidang serta tongkat kayu sakti punya Sultan Domas. 

Satu hari waktu Sultan Domas pergi ke sungai mencari ikan, datanglah lima orang jahat masuk tempat tinggalnya untuk mengambil sebilah pedang serta tongkat kayu yang ada didalam rumah Sultan Domas. 

Sesudah mereka temukan pedang serta tongkat itu, mereka punya maksud membakar rumah Sultan Domas, tetapi korek api yang mereka bawa tak dapat dinyalakan hingga pada akhirnya mereka tidak jadi membakar rumah itu. Lantas mereka bergegas keluar lewat pintu depan, tetapi alangkah terkejutnya waktu mereka lihat ular besar bakal menerkam mereka. 

Pada akhirnya mereka mengambil keputusan melalui pintu belakang tetapi disana juga mereka dijemput buaya yang sangat besar yang akan menerkam mereka dengan buasnya. 

Mereka tak dapat keluar hingga pada akhirnya Sultan Domas datang, mereka sangatlah takut serta cemas sekali. Awalannya Sultan Domas terperanjat waktu lihat ada lima orang ada didalam tempat tinggalnya, tetapi ia selekasnya kuasai dianya tidak untuk geram, ia jadi berbuat baik serta ramah pada lima orang penjahat itu, " Hai Tuan-tuan ini ada apa berkunjung ke rumahku? Duduklah. " seru Sultan Domas ramah sembari menyalami mereka satu per satu. 

Tetapi ke lima penjahat itu diam saja, mereka sangatlah takut tetapi sesudah berjabatan dengan tengan Sultan Domas, mendadak saja mereka dapat bicara, " Ng... Ng... Anu... kami cuma..., " ucap mereka gugup. 

Sultan Domas tersenyum, " Ah sudahlah, hari telah mendekati malam. Tuan-tuan ini bermalam saja di rumahku, " kata Sultan Domas tawarkan dengan tulus. Ke lima penjahat itu sama-sama berpandangan serta pada akhirnya mengangguk. Pada akhirnya nereka bermalam semalam serta esoknya pulang. 

Sesudah pulang mereka menebarkan pada orang-orang luas bahwa di pinggir sungai besar itu ada seseorang yang sangatlah sakti nan baik hati juga ramah sampai pada akhirnya beberapa orang yang mau buka tempat pertanian di seputar tempat sultan Domas itu. Sekian waktu lalu lama kelamaan daerah di tepi sungai itu jadi perkampungan yang ramai serta sejahtera serta Sultan Domas diangkat jadi pemimpin di kampung itu.
CERITA BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

CERITA BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

CERITA BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

Masa jaman dulu di suatu desa tinggal suatu keluarga yang terbagi dalam Bapak, Ibu serta seseorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka yaitu keluarga yang bahagia. Walau bapak bawang putih cuma pedagang umum, tetapi mereka hidup rukun serta damai. Tetapi satu hari ibu bawang putih sakit keras serta pada akhirnya wafat dunia. Bawang putih sangatlah berduka demikian juga ayahnya. 

Di desa itu tinggal juga seseorang janda yang mempunyai anak bernama Bawang Merah. Sejak ibu Bawang putih wafat, ibu Bawang merah kerap bertandang ke rumah Bawang putih. Dia kerap membawakan makanan, menolong bawang putih membereskan rumah atau cuma temani Bawang Putih serta ayahnya mengobrol. Pada akhirnya bapak Bawang putih memikirkan bahwa mungkin saja tambah baik bila ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, agar Bawang putih tak kesepian lagi. 

Dengan pertimbangan dari bawang putih, jadi bapak Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalannya ibu bawang merah serta bawang merah sangatlah baik pada bawang putih. Tetapi lama kelamaan karakter asli mereka mulai terlihat. Mereka sering memarahi bawang putih serta memberikannya pekerjaan berat bila bapak Bawang Putih tengah pergi berdagang. Bawang putih mesti kerjakan seluruhnya pekerjaan rumah, sesaat Bawang merah serta ibunya cuma sekedar duduk saja. Sudah pasti bapak Bawang putih tak tahu, lantaran Bawang putih tak pernah menceritakannya. 

Satu hari bapak Bawang putih jatuh sakit serta lalu wafat dunia. Mulai sejak waktu itu Bawang merah serta ibunya makin berkuasa serta semena-mena pada Bawang putih. Bawang putih nyaris tak pernah beristirahat. Dia harusnya bangun saat sebelum subuh, untuk menyiapkan air mandi serta sarapan untuk Bawang merah serta ibunya. Lalu dia mesti berikan makan ternak, menyirami kebun serta membersihkan pakaian ke sungai. Lantas dia masih tetap mesti menyetrika, membereskan rumah, serta ada banyak pekerjaan yang lain. Tetapi Bawang putih senantiasa lakukan pekerjaannya dengan senang, lantaran dia mengharapkan satu waktu ibu tirinya bakal mencintainya seperti anak kandungnya sendiri. 

Pagi ini seperti umum Bawang putih membawa bakul diisi baju yang bakal dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di tepi rimba kecil yang umum dilaluinya. Hari itu cuaca sangatlah cerah. Bawang putih selekasnya membersihkan seluruhnya baju kotor yang dibawanya. Karena sangat terlampau asiknya, Bawang putih tak mengerti bahwasalah satu pakaian sudah tenggelam terbawa arus. Celakanya pakaian yang tenggelam yaitu pakaian yang paling disayangi ibu tirinya. Saat mengerti hal semacam itu, pakaian ibu tirinya sudah tenggelam terlampau jauh. Bawang putih coba menyusuri sungai untuk mencarinya, tetapi gagal menemukannya. Dengan putus harapan dia kembali pada rumah serta menceritakannya pada ibunya. 

“Dasar asal-asalan! ” bentak ibu tirinya. “Aku tidak ingin tahu, pokoknya anda mesti mencari pakaian itu! Serta janganlah berani pulang ke rumah bila kau belum menemukannya. Tahu? ” 

Bawang putih sangat terpaksa menuruti hasrat ibun tirinya. Dia selekasnya menyusuri sungai tempatnya membersihkan tadi. Mataharisudah mulai meninggi, tetapi Bawang putih belum juga temukan pakaian ibunya. Dia menempatkan matanya, dengan cermat diperiksanya tiap-tiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu pakaian ibunya tersangkut di sana. Sesudah jauh mengambil langkah serta matahari telah cenderung ke barat, Bawang putih lihat seseorang penggembala yang tengah memandikan kerbaunya. Jadi Bawang putih ajukan pertanyaan : “Wahai paman yang baik, apakah paman lihat pakaian merah yang tenggelam melalui sini? Lantaran saya mesti temukan serta membawanya pulang. ” “Ya tadi saya saksikan nak. Bila anda mengubernya cepat-cepat, mungkin saja kau dapat mengubernya, ” kata paman itu. 

“Baiklah paman, terima kasih! ” kata Bawang putih serta selekasnya lari kembali menyusuri. Hari telah mulai gelap, Bawang putih telah mulai putus harapan. Sebentar lagi malam bakal tiba, serta Bawang putih. Dari terlalu jauh terlihat sinar lampu yang datang dari suatu gubuk di pinggir sungai. Bawang putih selekasnya hampiri rumah itu serta mengetuknya. 
“Permisi…! ” kata Bawang putih. Seseorang wanita tua buka pintu. 
“Siapa anda nak? ” bertanya nenek itu. 

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya tengah mencari pakaian ibu saya yang tenggelam. Serta saat ini kemalaman. Bolehkah saya tinggal disini malam ini? ” bertanya Bawang putih. 
“Boleh nak. Apakah pakaian yang kau mencari berwarna merah? ” bertanya nenek. 
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya? ” bertanya Bawang putih. 

“Ya. Tadi pakaian itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, walau sebenarnya saya suka pada pakaian itu, ” kata nenek. “Baiklah saya bakal mengembalikannya, namun kau mesti temaniku dahulu di sini sepanjang satu minggu. Telah lama saya tak mengobrol dengan siapa saja, bagaimanakah? ” pinta nenek. Bawang putih memikirkan sesaat. Nenek itu terlihat kesepian. Bawang putih juga terasa iba. “Baiklah nek, saya bakal temani nenek sepanjang satu minggu, asal nenek tak jemu saja denganku, ” kata Bawang putih dengan tersenyum. 

Sepanjang satu minggu Bawang putih tinggal dengan nenek itu. Sehari-hari Bawang putih menolong kerjakan pekerjaan rumah nenek. Sudah pasti nenek itu terasa suka. Sampai pada akhirnya genap telah satu minggu, nenek juga memanggil bawang putih. 
“Nak, telah satu minggu kau tinggal disini. Serta saya suka lantaran kau anak yang rajin serta berbakti. Karenanya sesuai sama janjiku kau bisa membawa pakaian ibumu pulang. Serta satu lagi, kau bisa pilih satu dari dua labu kuning ini juga sebagai hadiah! ” kata nenek. 
Awalnya Bawang putih menampik di beri hadiah namun nenek terus memaksanya. Pada akhirnya Bawang putih pilih labu yang paling kecil. “Saya takut tak kuat membawa yang besar, ” tuturnya. Nenek juga tersenyum serta mengantarkan Bawang putih sampai depan rumah. 

Sesampainya dirumah, Bawang putih menyerahkan pakaian merah punya ibu tirinya sesaat dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih saat labu itu terbelah, didalamnya nyatanya diisi emas permata yang sangatlah banyak. Dia berteriak karena sangat senangnya serta memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya serta bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas serta permata itu. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimanakah dia dapat memperoleh hadiah itu. Bawang putih juga menceritakan dengan sejujurnya. 

Mendengar narasi bawang putih, bawang merah serta ibunya merencanakan untuk lakukan hal yang sama namun kesempatan ini bawang merah yang bakal mengerjakannya. Secara singkat pada akhirnya bawang merah hingga dirumah nenek tua di tepi sungai itu. Seperti bawang putih, bawang merah juga disuruh untuk temaninya sepanjang satu minggu. Tak seperti bawang putih yang rajin, sepanjang satu minggu itu bawang merah cuma bermalas-malasan. Jikalau ada yang ditangani jadi akhirnya tak pernah bagus lantaran senantiasa ditangani dengan sembarangan. Pada akhirnya sesudah satu minggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah semestinya nenek memberiku labu juga sebagai hadiah lantaran temanimu sepanjang satu minggu? ” bertanya bawang merah. Nenek itu sangat terpaksa menyuruh bawang merah pilih satu diantara dua labu yang di tawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar serta tanpa ada mengatakan terima kasih dia melenggang pergi. 

Sesampainya dirumah bawang merah selekasnya menjumpai ibunya serta dengan senang menunjukkan labu yang dibawanya. Lantaran takut bawang putih bakal meminta sisi, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lantas dengan tak sabar mereka membelah labu itu. Namun nyatanya bukanlah emas permata yang keluar dari labu itu, tetapi binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan sebagainya. Binatang-binatang itu segera menyerang bawang merah serta ibunya sampai tewas. Tersebut balasan untuk orang yang serakah.
BATU MENANGIS

BATU MENANGIS

Narasi Legenda Kalimantan 

Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seseorang janda miskin serta seseorang anak gadisnya. 

Anak gadis janda itu sangatlah cantik jelita. Tetapi sayang, ia memiliki perilaku yang sangat jelek. Gadis itu sangat pemalas, tidak pernah menolong ibunya lakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya cuma bersolek sehari-hari. 

Terkecuali pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Semua permintaannya mesti dituruti. Setiap saat ia meminta suatu hal pada ibunya mesti dikabulkan, tanpa ada memperdulikan situasi ibunya yang miskin, sehari-hari mesti membanting tulang mencari sesuap nasi. 

Disuatu hari anak gadis itu di ajak ibunya turun ke desa untuk belanja. Letak pasar desa itu sangat jauh, hingga mereka mesti jalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu jalan melenggang dengan menggunakan baju yang bagus serta bersolek supaya orang dijalan yang melihatnya kelak bakal kagum pada kecantikannya. Sesaat ibunya jalan dibelakang sembari membawa keranjang dengan baju sangatlah dekil. Lantaran mereka hidup di tempat terpencil, tidak seseorangpun tahu bahwa ke-2 wanita yang jalan itu yaitu ibu serta anak. 

Saat mereka mulai masuk desa, beberapa orang desa memandangi mereka. Mereka demikian kagum lihat kecantikan anak gadis itu, terlebih beberapa pemuda desa yang tidak puas-puasnya melihat muka gadis itu. Tetapi saat lihat orang yang jalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal semacam itu bikin orang bertanya-tanya. 

Diantara orang yang melihatnya itu, seseorang pemuda mendekati serta ajukan pertanyaan pada gadis itu, " Hai, gadis cantik. Apakah yang jalan dibelakang itu ibumu? " 
Tetapi, apa jawaban anak gadis itu? 
 " Bukanlah, " tuturnya dengan angkuh. " Ia yaitu pembantuku! " 
Ke-2 ibu serta anak itu lalu melanjutkan perjalanan. Tidak seberapa jauh, mendekati lagi seseorang pemuda serta ajukan pertanyaan pada anak gadis itu. 
 " Hai, manis. Apakah yang jalan dibelakangmu itu ibumu? " 
 " Bukanlah, bukanlah, " jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia yaitu budakk! " 
Begitulah tiap-tiap gadis itu bersua dengan seorang disepanjang jalan yang bertanya tentang ibunya, senantiasa jawabannya itu. Ibunya diperlakukan juga sebagai pembantu atau budaknya. 

Pada awalnya mendengar jawaban putrinya yang durhaka bila di tanya orang, si ibu masih tetap bisa menahan diri. Tetapi sesudah berkali-kali didengarnya jawabannya sama serta yang sangat menyakitkan hati, pada akhirnya si ibu yang malang itu tidak bisa menahan diri. Si ibu berdoa. 

 " Ya Tuhan, hamba tidak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba demikian teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini! Hukumlah dia.... " 
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan badan gadis durhaka itu beralih jadi batu. Pergantian itu diawali dari kaki. Saat pergantian itu sudah meraih 1/2 tubuh, anak gadis itu menangis memohon ampun pada ibunya. 

 " Oh, Ibu.. ibu.. ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu sampai kini. Ibu... Ibu... ampunilah anakmu.. " Anak gadis itu selalu meratap serta menangis memohon pada ibunya. Walau demikian, seluruhnya sudah terlambat. Semua badan gadis itu pada akhirnya beralih jadi batu. Sekalipun jadi batu, tetapi orang bisa lihat bahwa ke-2 matanya masih tetap menitikkan air mata, seperti tengah menangis. Oleh karenanya, batu yang datang dari gadis yang memperoleh kutukan ibunya itu dimaksud " Batu Menangis ". 

Sekianlah narasi berupa legenda ini, yang oleh orang-orang setempat diakui bahwa cerita itu betul-betul pernah berlangsung. Siapa saja yang mendurhakai ibu kandung yang sudah melahirkan serta membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu bakal memperoleh hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Asal Usul Kota Banyuwangi

Asal Usul Kota Banyuwangi

Pada zaman dulu di lokasi ujung timur Provinsi Jawa Timur ada suatu kerajaan besar yang diperintah oleh seseorang Raja yang adil serta bijaksana. Raja itu memiliki seseorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kesukaan Raden Banterang yaitu berburu. “Pagi hari ini saya bakal berburu ke rimba. Siapkan alat berburu, ” kata Raden Banterang pada beberapa abdinya. Sesudah peralatan berburu siap, Raden Banterang dibarengi sebagian pengiringnya pergi ke rimba. Saat Raden Banterang jalan sendirian, ia lihat seekor kijang melintas di depannya. Ia selekasnya menguber kijang itu sampai masuk jauh ke rimba. Ia terpisah dengan beberapa pengiringnya. 

“Kemana seekor kijang tadi? ”, kata Raden Banterang, saat kehilangan jejak buruannya. “Akan ku mencari selalu hingga bisa, ” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar serta pohon-pohon rimba. Tetapi, binatang buruan itu tak diketemukan. Ia tiba di suatu sungai yang sangatlah bening airnya. “Hem, fresh nian air sungai ini, ” Raden Banterang minum air sungai itu, hingga terasa hilang dahaganya. Kemudian, ia meninggalkan sungai. Tetapi baru sebagian langkah jalan, mendadak dikagetkan kehadiran seseorang gadis cantik jelita. 

“Ha? Seseorang gadis cantik jelita? Apakah benar ia seseorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu rimba, ” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang membulatkan tekad mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu rimba? ” sapa Raden Banterang. “Saya manusia, ” jawab gadis itu sembari tersenyum. Raden Banterang juga mengenalkan dianya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati datang dari kerajaan Klungkung”. “Saya ada ditempat ini lantaran menyelamatkan diri dari serangan musuh. Bapak saya sudah gugur dalam menjaga mahkota kerajaan, ” Tuturnya. Mendengar perkataan gadis itu, Raden Banterang terperanjat bukanlah kepalang. Lihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang selekasnya membantu serta mengajaknya pulang ke istana. Selang beberapa saat mereka menikah bangun keluarga bahagia. 

Disuatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati! ”, panggil seseorang laki-laki yang kenakan pakaian compang-camping. Sesudah mencermati muka lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang ada di depannya yaitu kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kehadiran Rupaksa yaitu untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, lantaran Raden Banterang sudah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia ingin diperistri Raden Banterang lantaran sudah berhutang budi. Dengan demikian, Surati tidak ingin menolong ajakan kakak kandungnya. Rupaksa geram mendengar jawaban adiknya. Tetapi, ia pernah memberi suatu masa lalu berbentuk ikat kepala pada Surati. “Ikat kepala ini mesti kau taruh dibawah tempat tidurmu, ” pesan Rupaksa. 

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tak di ketahui oleh Raden Banterang, karena Raden Banterang tengah berburu di rimba. Ketika Raden Banterang ada di dalam rimba, mendadak pandangan matanya dikagetkan oleh kehadiran seseorang lelaki kenakan pakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri, ” kata lelaki itu. “Tuan dapat lihat buktinya, dengan lihat suatu ikat kepala yang ditempatkan dibawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu punya lelaki yang disuruhi tolong untuk membunuh Tuan, ” tuturnya. Sesudah mengatakan kalimat itu, lelaki kenakan pakaian compang-camping itu hilang dengan cara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia juga selekasnya pulang ke istana. Sesudah tiba di istana, Raden Banterang segera menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang sudah dikisahkan oleh lelaki kenakan pakaian compang-camping yang sudah menjumpai di rimba. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini juga sebagai bukti! Kau berencana ingin membunuhku dengan minta tolong pada yang memiliki ikat kepala ini! ” tuduh Raden Banterang pada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku? ” tandas Raden Banterang. ”Jangan asal tuduh. Adinda sekalipun tak punya maksud membunuh Kakanda, terlebih minta tolong pada seseorang lelaki! ” jawab Surati. Tetapi Raden Banterang terus pada keputusannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu bakal membahayakan hidupnya. Nah, saat sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dulu mau mencemoohkakan istrinya. 

Raden Banterang punya niat menenggelamkan istrinya di suatu sungai. Sesudah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan perihal pertemuan dengan seseorang lelaki compang-camping saat berburu di rimba. Sang istri juga menceritakan perihal pertemuan dengan seseorang lelaki kenakan pakaian compang-camping seperti yang diterangkan suaminya. “Lelaki itu yaitu kakak kandung Adinda. Dialah yang berikan suatu ikat kepala pada Adinda, ” Surati menuturkan kembali, supaya Raden Banterang luluh hatinya. Tetapi, Raden Banterang terus yakin bahwa istrinya bakal mencemoohkakan dianya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati serta perasaan Kakanda! Adinda ikhlas mati untuk keselamatan Kakanda. Namun berilah peluang pada Adinda untuk menceritakan tentang pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa, ” ucap Surati mengingatkan. 

“Kakak Adindalah yang bakal membunuh kakanda! Adinda diminati pertolongan, namun Adinda tolah! ”. Mendengar hal itu, hati Raden Banterang tak cair bahkan juga berasumsi istrinya berbohong.. “Kakanda! Bila air sungai ini jadi bening serta harum baunya, bermakna Adinda tak bersalah! Namun, bila terus keruh serta bau busuk, bermakna Adinda bersalah! ” seru Surati. Raden Banterang berasumsi perkataan istrinya itu mengada-ada. Jadi, Raden Banterang selekasnya menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Berbarengan itu juga, Surati melompat ke tengah sungai lantas menghilang. 

Tak berapakah lama, berlangsung suatu keajaiban. Bau nan harum merebak di seputar sungai. Lihat peristiwa itu, Raden Banterang berseru dengan nada gemetar. “Istriku tak berdosa! Air kesempatan ini harum baunya! ” Begitu menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, serta menyesali kebodohannya. Tetapi telah terlambat. 

Mulai sejak itu, sungai jadi harum baunya. Dalam bhs Jawa dimaksud Banyuwangi. Banyu berarti air serta wangi berarti harum. Nama Banyuwangi lalu jadi nama kota Banyuwangi.