Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Desember 2015

Dongeng Timun Mas

Dongeng Timun Mas

Narasi Rakyat Jawa Tengah 

Pada zaman dulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di suatu desa di dekat rimba. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seseorang anak juga. 

Sehari-hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa supaya selekasnya di beri seseorang anak. Satu hari seseorang raksasa melalui rumah mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu lalu berikan mereka biji mentimun. 

“Tanamlah biji ini. Kelak kau bakal memperoleh seseorang anak wanita, ” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa, ” kata suami istri itu. “Tapi ada prasyaratnya. Pada umur 17 th. anak itu mesti kalian serahkan padaku, ” sahut Raksasa. Suami istri itu sangatlah merindukan seseorang anak. Karenanya tanpa ada memikirkan panjang mereka sepakat. 

Suami istri petani itu lalu menanam biji-biji mentimun itu. Sehari-hari mereka menjaga tanaman yang mulai berkembang itu dengan sebaik-baiknya. Berbulan-bulan lalu tumbuhlah suatu mentimun berwarna keemasan. 

Buah mentimun itu makin lama makin besar serta berat. Saat buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Begitu terkejutnya mereka, didalam buah itu mereka temukan bayi wanita yang sangatlah cantik. Suami istri itu sangatlah bahagia. Mereka berikan nama bayi itu Timun Mas. 

Th. untuk th. berlalu. Timun Mas tumbuh jadi gadis yang cantik. Ke-2 orang tuanya sangatlah bangga padanya. Namun mereka jadi sangatlah takut. Lantaran pada lagi th. Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas. 

Petani itu coba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas tengah bermain. Istriku bakal memanggilnya, ” tuturnya. Petani itu selekasnya menjumpai anaknya. “Anakkku, ambil ini, ” tuturnya sembari menyerahkan suatu kantung kain. “Ini bakal menolongmu melawan Raksasa. Saat ini larilah secepat-cepatnya, ” tuturnya. Jadi Timun Mas juga selekasnya melarikan diri. 

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Namun mereka tak ikhlas bila anaknya jadi santapan Raksasa. Raksasa menanti cukup lama. Ia jadi tidak sabar. Ia paham, sudah dibohongi suami istri itu. Lantas ia juga menghancurkan pondok petani itu. Lantas ia menguber Timun Mas ke rimba. 

Raksasa selekasnya lari menguber Timun Mas. Raksasa makin dekat. Timun Mas selekasnya mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lantas garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Mendadak suatu laut yang luas juga terhampar. Raksasa sangat terpaksa berenang dengan sulit payah. 

Timun Mas lari lagi. Namun lalu Raksasa nyaris sukses menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Saat itu juga pohon dengan ranting serta duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sesaat Timun Mas lari menyelamatkan diri. 

Namun Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi nyaris menangkap Timun Mas. Jadi Timun Mas juga keluarkan benda ajaib ketiga. Ia menyebarkan biji-biji mentimun ajaib. Saat itu juga tumbuhlah kebun mentimun yang sangatlah luas. Raksasa sangatlah letih serta kelaparan. Ia juga makan mentimun-mentimun yang fresh itu dengan lahap. Lantaran terlampau banyak makan, Raksasa tertidur. 

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia lari sekuat tenaga. Namun lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi lantaran Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi nyaris menangkapnya. Timun Mas sangatlah ketakutan. Ia juga melemparkan senjatanya yang paling akhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi berlangsung keajaiban. Suatu danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya nyaris meraih Timun Mas. Namun danau lumpur itu menariknya ke basic. Raksasa cemas. Ia tidak dapat bernapas, lantas terbenam. 

Timun Mas lega. Ia sudah selamat. Timun Mas juga kembali pada rumah orang tuanya. Bapak serta Ibu Timun Mas suka sekali lihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau sudah menyelamatkan anakku, ” kata mereka senang. 

Mulai sejak waktu itu Timun Mas bisa hidup tenang berbarengan orang tuanya. Mereka bisa hidup bahagia tanpa ada ketakutan lagi.Dongeng Timun Mas
Cerita Rakyat Keong emas

Cerita Rakyat Keong emas


Cerita Rakyat Keong emas

Alkisah pada masa jaman dulu hiduplah seseorang pemuda bernama Galoran. Ia termasuk juga orang yang disegani lantaran kekayaan serta pangkat orangtuanya. Tetapi Galoran sangat malas serta boros. Sehari-hari kerjanya cuma menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan juga pada saat orang tuanya wafat dunia ia makin kerap berfoya-foya. Karenanya lama kelamaan habislah harta orangtuanya. Meskipun sekian tak bikin Galoran sadar juga, bahkan juga saat di habiskannya dengan cuma bermalas-malasan serta berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Tetapi setiap saat ada yang tawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran cuma makan serta tidur saja tanpa ada ingin lakukan pekerjaan itu. Tetapi pada akhirnya galoran dipungut oleh seseorang janda berkecukupan untuk jadikan rekan hidupnya. Hal semacam ini bikin Galoran sangatlah suka ; " Pucuk dicinta ulam juga tiba ", sekian pikir Galoran. 

Janda itu memiliki seseorang anak wanita yang sangatlah rajin serta pintar menenun, namanya Jambean. Demikian bagusnya tenunan Jambean hingga di kenal di semua dusun itu. Tetapi Galoran sangatlah membenci anak tirinya itu, lantaran kerapkali Jambean memberinya teguran lantaran senantiasa bermalas-malasan. 
Rasa tidak suka Galoran sedemikian dalamnya, hingga tega berencana pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam dia berkata pada istrinya : " Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia memberikan nasehat orang-tua! Patutkah itu? " " Sabar, Kak. Jambean tak punya maksud jelek pada kakak " rayu istrinya itu. " Tahu saya kenapa ia berbuat kasar padaku, supaya saya pergi meninggalkan rumah ini! " seru nya lagi sembari melototkan matanya. " Janganlah demikian kak, Jambean cuma mengingatkan supaya kakak ingin bekerja " sekian usaha sang istri meredakan amarahnya. " Ah.. omong kosong. Pendeknya saat ini engkau mesti pilih.. saya atau anakmu! " sekian Galoran meneror. 

Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam lantaran bingung hatinya. Ratapnya : " Tega bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak " serunya lirih. " Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku " jawab Jambean. " Nah usai telah " serunya lagi. Segera Jambean memperoleh ibunya yang tengah bersedih. " Kenapa emak bersedih saja " tanyanya dengan iba. Jadi diceritakanlah gagasan ayah Jambean yang berencana bakal membunuh Jambean. Dengan sedih Jambean juga berkata : " Sudahlah mak janganlah bersedih, biarlah saya penuhi hasrat ayah. Yang benar pada akhirnya bakal bahagia mak ". " Tetapi cuma satu pesanku mak, jika saya telah dibunuh bapak jangan sampai mayatku ditanam namun buang saja ke bendungan " jawabnya lagi. Dengan sangatlah sedih sang ibu juga mengangguk-angguk. Pada akhirnya Jambean juga dibunuh oleh bapak tirinya, serta sesuai sama keinginan Jambean sang ibu buang mayatnya di bendungan. Dengan ajaib batang badan serta kepala Jambean beralih jadi udang serta siput, atau dimaksud dengan juga keong dalam bhs Jawanya. 

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara bernama Mbok Rondo Sambega serta Mbok Rondo Sembadil. Ke-2 janda itu hidup dengan sangatlah miskin serta bermata pencaharian menghimpun kayu serta daun talas. Satu hari ke-2 bersaudara itu pergi ke dekat bendungan untuk mencari daun talas. Sangatlah terpana mereka lihat udang serta siput yang berwarna kuning keemasan. " Alangkah indahnya udang serta siput ini " seru Mbok Rondo Sambega " Lihatlah begitu indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Mau saya dapat memeliharanya " serunya lagi. " Yah sangatlah indah, kita bawa saja udang serta keong ini pulang " sahut Mbok Rondo Sembadil. Jadi dipungutnya udang serta siput itu untuk dibawa pulang. Lalu udang serta siput itu mereka simpan didalam tempayan tanah liat di dapur. Mulai sejak mereka pelihara udang serta siput emas itu kehidupan merekapun beralih. Terlebih tiap-tiap setelah pulang bekerja, didapur sudah ada lauk pauk serta rumah jadi sangatlah rapi serta bersih. Mbok Rondo Sambega serta Mbok Rondo Sembadil juga terasa keheranan karenanya ada hal itu. Hingga disuatu hari mereka merencanakan untuk mencari tahu siapakah kiranya yang lakukan hal itu. 

Satu hari mereka seperti umumnya pergi untuk mencari kayu serta daun talas, mereka berpura-pura pergi serta setelah jalan agak jauh mereka selekasnya kembali menyelusup ke dapur. Dari dapur terdengar nada gemerisik, ke-2 bersaudara itu selekasnya mengintip serta lihat seseorang gadis cantik keluar dari tempayan tanah liat yang diisi udang serta Keong Emas peliharaan mereka. " pasti dia yaitu jelmaan keong serta udang emas itu " bisik Mbok Rondo Sambega pada Mbok Rondo Sembadil. " Mari kita tangkap saat sebelum menjelma kembali jadi udang serta Keong Emas " bisik Mbok Rondo Sembadil. Dengan perlahan mereka masuk ke dapur, lantas ditangkapnya gadis yang tengah asyik memasak itu. " Mari katakan segera nak, siapa kiranya anda itu " desak Mbok Rondo Sambega " Bidadarikah anda? " sahutnya lagi. " bukanlah Mak, saya manusia umum yang lantaran dibunuh serta dibuang oleh orangtua saya, jadi saya menjelma jadi udang serta keong " sahut Jambean lirih. " terharu mendengar narasi Jambean ke-2 bersaudara itu pada akhirnya mengambil Keong Emas juga sebagai anak angkat mereka. Mulai sejak itu Keong Emas menolong ke-2 bersaudara itu dengan menenun. Tenunannya sangatlah indah serta bagus hingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, serta ke-2 janda bersaudara itu jadi jadi tambah kaya dari hari kehari. 

Sampailah tenunan tersebut di ibu kota kerajaan. Sang raja muda sangatlah tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas itu. Pada akhirnya raja mengambil keputusan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan itu serta pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar juga sebagai saudagar kain. Pada akhirnya tahulah raja tentang Keong Emas itu, serta sangatlah tertarik oleh kecantikan serta kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan ke-2 bersaudara itu untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan serta meminang si Keong Emas untuk jadikan permaisurinya. Begitu suka hati ke-2 janda bersaudara itu.
Cerita Sultan Domas yang Baik Hati

Cerita Sultan Domas yang Baik Hati

Cerita Sultan Domas yang Baik Hati
Dahuiu saat di Kota Lampung ada suatu desa di tepi sungai. Saat ini desa itu terdapat di Kota Sukadana, Lampung Tengah. Pekerjaan orang-orangnya sehari-hari adalah bertani serta berkebun. Desa itu cukup ramai. Alkisah di desa yang ramai itu hiduplah seseorang pemuda bernama Domas yang tinggal di gubuk tua. Pemuda itu sangatlah miskin, ia senantiasa dihina oleh orang-orang setempat, karenanya ia tidak sering keluar untuk berbaur dengan masyarakat. Pekerjaan setiap harinya cuma mamancing di kali yang dekat dengan gubuknya. 

Walaupunpiun ia senantiasa dihina serta diejek oleh beberapa masyarakat setempaf, Domas tidak pernah sedikitpun membenci mereka yang mengejeknya. Bahkan juga waktu sepulang dari mencari kayu bakar ia terperanjat waktu menjumpai gubuknya telah terbakar musnah. 

Domas tidak tahu kenapa beberapa orang tega membakar gubuknya, walau sebenarnya ia cuma mempunyai gubuk tua itu. Nyaris saja Domas putus harapan sampai satu malam ia punya mimpi didatangi kakek tua berjanggut putih. Dalam mimpinya, kakek tua itu memintanya supaya pergi ke arah selatan serta mencari sungai yang dikelilingi pohon-pohon besar. Lalu Domas disuruhnya menetap disana untuk buka pertanian. 

Domas terheran-heran kenapa ia dapat punya mimpi sekian, pada akhirnya sesudah membulatkan kemauan, ia pergi juga meninggalkan kampung halamannya menuju tempat yang jauh itu seperti dalam mimpinya. Nyatanya perjalanannya tidak gampang, berulang-kali ia memperoleh halangan baik serangan dari hewan- hewan buas ataupun makhluk halus, tetapi ia sukses melalui seluruhnya dengan selamat sampai pada akhirnya sampailah ia ditempat yang dituju. la berhenti di suatu rimba lebat serta temukan suatu sungai yang besar dengan airnya yang jernih yang seputarnya ada pohon-pohon besar. 

Lalu Domas mencari kayu-kayu di sekelilingnya untuk membangun rumah di pinggir sungai besar itu yang saat ini lebih di kenal dengan nama sungai Way Sekampung. Sesudah Domas membangun rumah, ia lantas menebang kayu-kayu untuk jadikan tempat pertanian. Saat ini Domas melakukan setiap harinya dengan penuh semangat serta rasa senang. 

Satu hari ia lakukan semedi sampai ketika bertapa pada larut malam itu ia mendengar nada gaib memangilnya, " Hei anak muda! Saya yaitu makhluk titisan dari langit, saat ini kau bakal mempunyai pengetahuan sakti serta terimalah pedang serta tongkat kayu yang berupa ular ini, gunakan dengan baik " ucap nada gaib itu seraya menghilang. 

Domas lalu buka matanya serta temukan sebilah pedang serta tongkat kayu di sebelahnya, ia juga mengucap sukur. 

 " Terima kasih Tuhan atas semuanya, ijinkan saya jadi manusia yang bermanfaat, " ucapnya lirih. 

Bersamaan berjalannya saat, rimba yang dahulunya sepi itu saat ini perlahan-lahan jadi ramai, beberapa orang yang berdatangan untuk mencari kayu maupun mencari ikan di sungai yang besar itu. 

Saat ini Domas jadi sosok yang tidak sama, ia mulai terpandang dengan kebaikannya sampai namanya ditambah jadi Sultan Domas. la senantiasa membantu beberapa orang yang terserang binatang buas serta beberapa macam pertolongan yang lain yang ia berikanlah tanpa ada rasa pamrih. 

Tetapi tak selama-lamanya kebaikan dibalas dengan kebaikan, rupanya ada saja beberapa orang yang pernah ditolong Sultan Domas itu mau berbuat jahat kepadanya. Mereka mau merebut sebilah pidang serta tongkat kayu sakti punya Sultan Domas. 

Satu hari waktu Sultan Domas pergi ke sungai mencari ikan, datanglah lima orang jahat masuk tempat tinggalnya untuk mengambil sebilah pedang serta tongkat kayu yang ada didalam rumah Sultan Domas. 

Sesudah mereka temukan pedang serta tongkat itu, mereka punya maksud membakar rumah Sultan Domas, tetapi korek api yang mereka bawa tak dapat dinyalakan hingga pada akhirnya mereka tidak jadi membakar rumah itu. Lantas mereka bergegas keluar lewat pintu depan, tetapi alangkah terkejutnya waktu mereka lihat ular besar bakal menerkam mereka. 

Pada akhirnya mereka mengambil keputusan melalui pintu belakang tetapi disana juga mereka dijemput buaya yang sangat besar yang akan menerkam mereka dengan buasnya. 

Mereka tak dapat keluar hingga pada akhirnya Sultan Domas datang, mereka sangatlah takut serta cemas sekali. Awalannya Sultan Domas terperanjat waktu lihat ada lima orang ada didalam tempat tinggalnya, tetapi ia selekasnya kuasai dianya tidak untuk geram, ia jadi berbuat baik serta ramah pada lima orang penjahat itu, " Hai Tuan-tuan ini ada apa berkunjung ke rumahku? Duduklah. " seru Sultan Domas ramah sembari menyalami mereka satu per satu. 

Tetapi ke lima penjahat itu diam saja, mereka sangatlah takut tetapi sesudah berjabatan dengan tengan Sultan Domas, mendadak saja mereka dapat bicara, " Ng... Ng... Anu... kami cuma..., " ucap mereka gugup. 

Sultan Domas tersenyum, " Ah sudahlah, hari telah mendekati malam. Tuan-tuan ini bermalam saja di rumahku, " kata Sultan Domas tawarkan dengan tulus. Ke lima penjahat itu sama-sama berpandangan serta pada akhirnya mengangguk. Pada akhirnya nereka bermalam semalam serta esoknya pulang. 

Sesudah pulang mereka menebarkan pada orang-orang luas bahwa di pinggir sungai besar itu ada seseorang yang sangatlah sakti nan baik hati juga ramah sampai pada akhirnya beberapa orang yang mau buka tempat pertanian di seputar tempat sultan Domas itu. Sekian waktu lalu lama kelamaan daerah di tepi sungai itu jadi perkampungan yang ramai serta sejahtera serta Sultan Domas diangkat jadi pemimpin di kampung itu.
CERITA BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

CERITA BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

CERITA BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

Masa jaman dulu di suatu desa tinggal suatu keluarga yang terbagi dalam Bapak, Ibu serta seseorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka yaitu keluarga yang bahagia. Walau bapak bawang putih cuma pedagang umum, tetapi mereka hidup rukun serta damai. Tetapi satu hari ibu bawang putih sakit keras serta pada akhirnya wafat dunia. Bawang putih sangatlah berduka demikian juga ayahnya. 

Di desa itu tinggal juga seseorang janda yang mempunyai anak bernama Bawang Merah. Sejak ibu Bawang putih wafat, ibu Bawang merah kerap bertandang ke rumah Bawang putih. Dia kerap membawakan makanan, menolong bawang putih membereskan rumah atau cuma temani Bawang Putih serta ayahnya mengobrol. Pada akhirnya bapak Bawang putih memikirkan bahwa mungkin saja tambah baik bila ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, agar Bawang putih tak kesepian lagi. 

Dengan pertimbangan dari bawang putih, jadi bapak Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalannya ibu bawang merah serta bawang merah sangatlah baik pada bawang putih. Tetapi lama kelamaan karakter asli mereka mulai terlihat. Mereka sering memarahi bawang putih serta memberikannya pekerjaan berat bila bapak Bawang Putih tengah pergi berdagang. Bawang putih mesti kerjakan seluruhnya pekerjaan rumah, sesaat Bawang merah serta ibunya cuma sekedar duduk saja. Sudah pasti bapak Bawang putih tak tahu, lantaran Bawang putih tak pernah menceritakannya. 

Satu hari bapak Bawang putih jatuh sakit serta lalu wafat dunia. Mulai sejak waktu itu Bawang merah serta ibunya makin berkuasa serta semena-mena pada Bawang putih. Bawang putih nyaris tak pernah beristirahat. Dia harusnya bangun saat sebelum subuh, untuk menyiapkan air mandi serta sarapan untuk Bawang merah serta ibunya. Lalu dia mesti berikan makan ternak, menyirami kebun serta membersihkan pakaian ke sungai. Lantas dia masih tetap mesti menyetrika, membereskan rumah, serta ada banyak pekerjaan yang lain. Tetapi Bawang putih senantiasa lakukan pekerjaannya dengan senang, lantaran dia mengharapkan satu waktu ibu tirinya bakal mencintainya seperti anak kandungnya sendiri. 

Pagi ini seperti umum Bawang putih membawa bakul diisi baju yang bakal dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di tepi rimba kecil yang umum dilaluinya. Hari itu cuaca sangatlah cerah. Bawang putih selekasnya membersihkan seluruhnya baju kotor yang dibawanya. Karena sangat terlampau asiknya, Bawang putih tak mengerti bahwasalah satu pakaian sudah tenggelam terbawa arus. Celakanya pakaian yang tenggelam yaitu pakaian yang paling disayangi ibu tirinya. Saat mengerti hal semacam itu, pakaian ibu tirinya sudah tenggelam terlampau jauh. Bawang putih coba menyusuri sungai untuk mencarinya, tetapi gagal menemukannya. Dengan putus harapan dia kembali pada rumah serta menceritakannya pada ibunya. 

“Dasar asal-asalan! ” bentak ibu tirinya. “Aku tidak ingin tahu, pokoknya anda mesti mencari pakaian itu! Serta janganlah berani pulang ke rumah bila kau belum menemukannya. Tahu? ” 

Bawang putih sangat terpaksa menuruti hasrat ibun tirinya. Dia selekasnya menyusuri sungai tempatnya membersihkan tadi. Mataharisudah mulai meninggi, tetapi Bawang putih belum juga temukan pakaian ibunya. Dia menempatkan matanya, dengan cermat diperiksanya tiap-tiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu pakaian ibunya tersangkut di sana. Sesudah jauh mengambil langkah serta matahari telah cenderung ke barat, Bawang putih lihat seseorang penggembala yang tengah memandikan kerbaunya. Jadi Bawang putih ajukan pertanyaan : “Wahai paman yang baik, apakah paman lihat pakaian merah yang tenggelam melalui sini? Lantaran saya mesti temukan serta membawanya pulang. ” “Ya tadi saya saksikan nak. Bila anda mengubernya cepat-cepat, mungkin saja kau dapat mengubernya, ” kata paman itu. 

“Baiklah paman, terima kasih! ” kata Bawang putih serta selekasnya lari kembali menyusuri. Hari telah mulai gelap, Bawang putih telah mulai putus harapan. Sebentar lagi malam bakal tiba, serta Bawang putih. Dari terlalu jauh terlihat sinar lampu yang datang dari suatu gubuk di pinggir sungai. Bawang putih selekasnya hampiri rumah itu serta mengetuknya. 
“Permisi…! ” kata Bawang putih. Seseorang wanita tua buka pintu. 
“Siapa anda nak? ” bertanya nenek itu. 

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya tengah mencari pakaian ibu saya yang tenggelam. Serta saat ini kemalaman. Bolehkah saya tinggal disini malam ini? ” bertanya Bawang putih. 
“Boleh nak. Apakah pakaian yang kau mencari berwarna merah? ” bertanya nenek. 
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya? ” bertanya Bawang putih. 

“Ya. Tadi pakaian itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, walau sebenarnya saya suka pada pakaian itu, ” kata nenek. “Baiklah saya bakal mengembalikannya, namun kau mesti temaniku dahulu di sini sepanjang satu minggu. Telah lama saya tak mengobrol dengan siapa saja, bagaimanakah? ” pinta nenek. Bawang putih memikirkan sesaat. Nenek itu terlihat kesepian. Bawang putih juga terasa iba. “Baiklah nek, saya bakal temani nenek sepanjang satu minggu, asal nenek tak jemu saja denganku, ” kata Bawang putih dengan tersenyum. 

Sepanjang satu minggu Bawang putih tinggal dengan nenek itu. Sehari-hari Bawang putih menolong kerjakan pekerjaan rumah nenek. Sudah pasti nenek itu terasa suka. Sampai pada akhirnya genap telah satu minggu, nenek juga memanggil bawang putih. 
“Nak, telah satu minggu kau tinggal disini. Serta saya suka lantaran kau anak yang rajin serta berbakti. Karenanya sesuai sama janjiku kau bisa membawa pakaian ibumu pulang. Serta satu lagi, kau bisa pilih satu dari dua labu kuning ini juga sebagai hadiah! ” kata nenek. 
Awalnya Bawang putih menampik di beri hadiah namun nenek terus memaksanya. Pada akhirnya Bawang putih pilih labu yang paling kecil. “Saya takut tak kuat membawa yang besar, ” tuturnya. Nenek juga tersenyum serta mengantarkan Bawang putih sampai depan rumah. 

Sesampainya dirumah, Bawang putih menyerahkan pakaian merah punya ibu tirinya sesaat dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih saat labu itu terbelah, didalamnya nyatanya diisi emas permata yang sangatlah banyak. Dia berteriak karena sangat senangnya serta memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya serta bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas serta permata itu. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimanakah dia dapat memperoleh hadiah itu. Bawang putih juga menceritakan dengan sejujurnya. 

Mendengar narasi bawang putih, bawang merah serta ibunya merencanakan untuk lakukan hal yang sama namun kesempatan ini bawang merah yang bakal mengerjakannya. Secara singkat pada akhirnya bawang merah hingga dirumah nenek tua di tepi sungai itu. Seperti bawang putih, bawang merah juga disuruh untuk temaninya sepanjang satu minggu. Tak seperti bawang putih yang rajin, sepanjang satu minggu itu bawang merah cuma bermalas-malasan. Jikalau ada yang ditangani jadi akhirnya tak pernah bagus lantaran senantiasa ditangani dengan sembarangan. Pada akhirnya sesudah satu minggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah semestinya nenek memberiku labu juga sebagai hadiah lantaran temanimu sepanjang satu minggu? ” bertanya bawang merah. Nenek itu sangat terpaksa menyuruh bawang merah pilih satu diantara dua labu yang di tawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar serta tanpa ada mengatakan terima kasih dia melenggang pergi. 

Sesampainya dirumah bawang merah selekasnya menjumpai ibunya serta dengan senang menunjukkan labu yang dibawanya. Lantaran takut bawang putih bakal meminta sisi, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lantas dengan tak sabar mereka membelah labu itu. Namun nyatanya bukanlah emas permata yang keluar dari labu itu, tetapi binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan sebagainya. Binatang-binatang itu segera menyerang bawang merah serta ibunya sampai tewas. Tersebut balasan untuk orang yang serakah.